skip to main
|
skip to sidebar
proposal interpreneurship
Sabtu, 21 November 2009
proposal of interpreneuship
INDUSTRI PENGOLAHAN BIJI METE
I.
RINGKASAN
Usaha ini akan diberi nama CV. Mete Sejati Makmur, yang bergerak dibidang pengolahan biji mete. Usaha ini akan didirikan di Kecamatan Lasolo, mengingat ketersediaan bahan baku di daerah tersebut masih cukup memadai. Dalam menjalankan aktivitasnya perusahaan ini membutuhkan tenaga kerja sebanyak 10 orang.
Jumlah modal yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha ini adalah sebesar Rp. 150.000.000, yang berasal dari dua sumber yaitu modal sendiri dan modal pinjaman. Hasil produksi usaha ini berupa biji mete akan dipasarkan melalu pasar lokal, nasional, maupun internasional, dengan harga sesuai kualitas produk, yakni berkisar Rp. 30.000 – Rp. 50,000/kg.
Untuk menghasilkan 1 Kg biji mete bersih dibutuhkan 3 kg biji mete gelondongan. Harga biji mete bersih berkisar antara Rp. 30.000-50.000/kg., sedangkan harga biji mete gelondongan berkisar antara Rp.5.000-7000/kg
Pengupasan biji mete biasanya dilakukan oleh tenaga kerja perempuan, dengan upah Rp.2500/kg. Dalam hal ini upah yang mereka terima ditentukan oleh jumlah kg biji mete bersih yang dihasilkannya. Bagi tenaga kerja yang sudah terampil dapat menghasilkan 10 kg biji mete bersih/hari.
II. DESKRIPSI ASPEK-ASPEK USAHA
A.
Deskripsi umum mengenai usaha
Selama ini pengupasan mete dilakukan dengan alat sebuah alat sederhana yang disebut “kacip”. Alat ini berupa landasan kayu dengan pisau yang bagian tajamnya dibentuk mirip lengkungan biji mete.
Untuk menghasilkan biji mete kupasan dilakukan dalam dua tahap, yakni pengupasan kulit gelondongan dan pengupasan kulit ari. Untuk mengupas kulit gelondongan dilakukan dengan kacip, sedangkan untuk mengupas kulit ari cukup dengan menggunakan tangan, namun sebelumnya, biji mete yang sudah dikupas kulit gelondongannya harus terlebih dahulu dijemur atau dipanaskan, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah proses pengupasan kulit ari, juga untuk mengurangi minyak laca yang melekat pada biji mete.
Disamping kendala di atas, sistem manajemen dalam usaha tersebut belum efektif, karena hanya mengandalkan tenaga kerja di dalam anggota keluarga sendiri, akibatnya hasil yang dicapai masih sangat minim, bahkan sering menimbulkan kerugian akibat produk biji mete yang dihasilkannya tidak utuh, sehingga harga jualnya menjadi sangat rendah. Disisi lain pemasarannya masih dilakukan dalam pasar lokal melalui para tengkulak. Hal ini tentu membutuhkan usaha yang lebih serius untuk menghasilkan produk biji mete yang berkualitas, sehingga dapat bersaing di pasar lokal, nasional maupun pasar internasional.
B.
Latar belakang
Di daerah-daerah penghasil biji mete, disaat panen harga komoditas ini sering jatuh hingga mencapai Rp.2500 /kg untuk biji mete gelondongan. Para petani jambu mete umumnya menjual dalam bentuk gelondongan, sehingga hasil yang di peroleh tidak memuaskan.
Penjualan dalam bentuk gelondongan menimbulkan kerugian bagi para petani jambu mete. Kerugian ini timbul akibat ulah dari para tengkulak yang mempermainkan harga pasar. Sehingga dengan adanya industri pengupasan biji mete diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani jambu mete. Disamping itu juga dapat membantu pemerintah dalam menyerap tenaga kerja
C.
Sejarah dan Latar Belakang Perusahan (CV)
Usaha pengupasan biji mete telah dilakukan sebelumnya. Namun usaha tersebut masih dalam dalam skala industri rumah tangga (kecil) dan menggunakan tenaga kerja dalam anggota keluarga. Sehingga kemampuan untuk mengelola biji mete sangat terbatas
D. Tujuan atau Potensi Usaha dan Pembagian Waktu
1. Tujuan Usaha
a.
Untuk mendapatkan keuntungan-
b. Untuk mempertahankan posisi tawar dalam pasar nasional maupun internasional
c. Untuk meningkatkan pendapatan petani jambu mete.
d.
Dapat mengurangi pengangguran-
2. Potensi Usaha
a.
Ketersediaan bahan baku yang cukup
b.
Ketersediaan tenaga kerja yang memadai
c.
Potensi produk yang dapat dipasarkan dipasar lokal, nasional, maupun internasional.
3. PembagianWaktu
Untuk mengelola usaha ini tidak membutuhkan waktu yang banyak. Penggunaan waktu yang padat hanya akan terjadi pada saat musim panen jambu mete. Hal ini terjadi pada bulan Oktober sampai bulan Pebruari, karena pada bulan yang bersangkutan selain aktivitas produksi, juga ada aktivitas lainnya yakni pembelian bahan baku jambu mete dari petani. Sedangkan pada bulan lain yang ada hanya aktivitas produksi dan pemasaran produk.
Aktivitas produksi berupa pengupasan biji mete, merupakan aktivitas rutin yang dikerjakan sehari-hari para karyawan. Sedangkan aktivitas pengemasan produk dapat dilakukan seminggu sekali yang disusul dengan kegiatan pemasaran.
E. Keunikan Produk
Jambu mete merupakan jenis produk yang sudah terbentuk secara alami, sehingga sulit untuk didesain ke bentuk lain. Salah satu cara untuk menjaga keunikan bentuknya adalah dengan cara menjaga keutuhan biji mete. Keutuhan biji mete dapat diperoleh melalui cara pengupasan gelondongan dan kulit ari secara sempurna.
III.
ASPEK PEMASARAN
a.
Penelitian dan Analisis
1. Target Pasar (Konsumen)
Jambu mete merupakan jenis produk konsumsi bagi masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi menengah ke atas. Namun hal ini tidak berarti bahwa masyarakat ekonomi rendah tidak dapat menikmati cita rasa biji mete.
Biji mete hasil pengelolaan secara utuh biasanya dijual dengan harga yang lebih tinggi, dan ini hanya memungkinkan dapat dikonsumsi oleh masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi menengah ke atas. Sedangkan biji mete yang pecah dijual dengan harga yang lebih murah, sehingga memungknkan untuk dapat dikonsumsi oleh masyarakat yang ekonominya rendah.
2. Ukuran dan Tren Pasar
Melihat permintaan biji mete yang cukup tinggi dalam berbagai pasar, maka produk ini tidak hanya dipasarkan melalui pasar lokal, melainkan juga akan dijual dalam pasar lokal, nasional maupun internasional.
3. Situasi Persaingan
Kemungkinan adanya persaingan produk ini sangat besar karena mengingat produk biji mete tidak hanya dihasilkan pada satu daerah yang menghasilkannya. Adapun daerah lain penghasil biji mete dalam lingkup nasional seperti NTT, Madura, Wonogiri, Gunung Kidul dan lain-lain. Sedangkan negara lain yang termasuk penghasil biji mete selain Indonesia adalah Srilangka, India dan Thailand.
Untuk mengatasi persaingan tersebut salah satu cara yang perlu dilakukan adalah dengan menjaga kualitas produk. Disamping itu, strategi penetapan harga yang disesuikan dengan kualitas produk dan tingkat pasar yang dituju.
4. Kalkulasi / Perkiraan bagian Pasar
Dalam pemasaran produk biji mete, pasar yang akan dimasuki disesuaikan denagn kualitas produk. Produk yang termasuk dalam kategori kelas 1 (satu) yakni produk biji mete yang utuh akan dipasarkan melalui pasar lokal, Nasional dan Internasioanal. Sedangkan produk yang termasuk dalam kategori kelas 11 (dua) yaitu produk biji mete yang pecah akan dipasarkan melalui lokal.
B. Rencana Pemasaran
1.
Strategi Pasar
Untuk mengatasi persaingan dengan prouk biji mete lainnya, maka salah satu strategi pemasaran yang akan diterapkan adalah dengan menyesuikan kualitas produk terhadap pasar yang akan dimasuki. Untuk kualitas kelas II (dua), cukup dijual di pasa lokal, yang akan didistribusikan melalui pedagang yang memiliki kios ataupun toko. Sedangkan kualitas I (satu), akan dijual di pasar Nasional dan Internasional, yang akan didistribusikan melalui mall atau jenis pasar lainnya.
2.
Penetapan Harga
Penetapan harga jambu mete disesuaikan dengan kualitas produk. Produk yang memiliki kualitas kelas I (satu) akan dijual dengan harga Rp, 40.000 - Rp, 50.000 / kg, dengan mempertimbangkan harga produk lain sebagai saingan. Sedangkan produk yang memilii kualitas kelas II (dua) akan dijual dengan harga Rp, 30.000 – Rp, 40.000 / kg.
3.
Periklanan dan Promosi
Agar dapat diketahui masyarakat luas, maka produk biji mete yang dihasilkan akan dipromosikan melalui media cetak dan elektronik, serta bentuk iklan lainnya seperti pemasangan papan nama dan spanduk ataupun penyebaran kartu nama dan stiker.
IV. PENELITIAN, MODEL DAN PENGEMBANGAN
A. Pengembangan dan rencana Desain
Untuk mengembangkan usaha ini maka salah satu faktor yang harus dirubah adalah aspek teknologi pengolahannya, karena aspek ini akan mempengaruhi volume produksi yang dihasilkan. Pengupasan biji mete yang selama ini menggunakan kacip sangat tergantung pada tingkat keterampilan pengupas, baik volume produksi maupun persentase kupasan utuh yang dihasilkannya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, bahwa Balai Desa Industri Hasil Produksi (BBIHP) di Bogor, telah mendesain mesin pengupas mete sederhana. Mesin ini dapat mengupas sekitar 100 kg biji mete gelondongan per jam. Hal ini sangat cocok di terapkan guna untuk meningkatkan volume produksi.
B. Hasil-hasil Penelitian Teknologi
Hasil penelitian yang dapat membantu pengembangan usaha ini berupa penilaian kelayakan untuk menerapkan mesin pengelolah biji mete yang lebih canggih. Hal ini akan menjadi pertimbangan dalam mrngbah sistem pengupasan biji mete dari alat sederhana berupa kacip ke alat yang lebih modern berupa mesin pengelola biji mete yang diproduksi oleh BBIHP.
C. Kebutuhan Asisten Penelitian
Untuk mengadakan penelitian mengenai kelayakan dalam menggunakan mesin pengupas biji mete, jumlah asiten penelitian yang dibutuhkan adalah sebanyak (dua) orang. Asisten penelitian ini diperoleh dari orang yang mempunyai keahlian dibidang penelitian atau yang mempunyai pengalaman dibidang penelitian dan pengembangan suatu usaha.
D.
Struktur Biaya
Jumlah biaya yang disediakan untuk mendanai penelitian ini sebesar Rp. 1.000.000.,-. Dana ini yan digunakan untuk persiapan, transportasi, pengumpulan data, analisis dan pengolahan data, serta biaya-biaya lain.
V
.
ASPEK PABRIK
A. Analisis Lokasi
Lokasi usaha ini akan ditempatkan di Kecamatan Lasolo pemilihan lokasi tersebut melalui beberapa pertimbangan antara lain ketersediaan bahan baku, tenaga kerja dan lain-lain.
B. Kebutuhan Produk : Fasilitas dan Peralatan
Fasilitas dan peralatan yang diperlukan demi kelancaran usaha antara lain :
1.
gedung 7. pisau cungkil
2.
mobil 8. terpal
3.
kacip 9. panci
4.
mesin pres 10.parang
5.
timbangan 11. kompor hock
6.
arco 12. karung
C . Penyuplai/ Faktor-faktor Tranportasi.
Untuk mendistribusikan produk biji mete, baik dipasar lokal maupun di pasar nasional usaha ini menyediakan satu unik mobol boks, untuk keperluan tersebut. Selain itu untuk keperluan pemasaran mobil tersebut juga digunakan unuk mengangkut bahan baku yaitu jambu mete gelondongan dari para petani untuk diantar ke gudang.
Dengan alat transortasi berupa mobil boks tersebut akan memberikan kemudahan bagi perusahaan unruk menyuplai hasil produksi biji mete ke toko-toko ataupun ke Mall sebagai tempat pemasaran produk. Dengan adanya sarana transportasi darat maupun laut seperti very akan semakin memberikan kemudahan bagi perusahan untuk memasarkan hasil produksi biji mete ke berbagai daerah maupun Negara.
D . Suplai Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang diperlukan untuk mengelolah usaha ini berasal dari masyarakat yang diperkirakan memiliki kemampuan dalam menjalankan tugas yang diberikan. Khusus untuk tenaga kerja dibidang produksi akan dipilih orang yang memiliki keterampilan dalam melakukan pengupasan biji mete, sehingga jumlah dan kualitas biji mete yang dihasilkannya akan bernilai tinggi.
Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dalam pengelolaan usaha ini adalah sebanyak 20 orang, yang terdiri dari :
1.
10 orang bidang produksi
2.
2 0rang dibidang penyediaan
3.
1 orang dibidang pembukuan
4.
1 orang supir mobil
5.
2 orang kondektur
6.
2 orang dibidang pengemasan produk
7.
1 orang kasir
Tingkat upah yang diberikan pada setiap tenaga kerja satu sama lainnya, hal ini sesuai bidangnya masing-masing dengan pertimbangan kesukaran kerja dan tanggung jawab pada setiap bidang tersebut. Pada bidang produksi tingkat upah yang diberikan berdasarkan jumlah kg biji mete yang dihasilkannya, dimana setiap kg biji mete yang dihasilkan akan diberikan upah sebesar Rp.2500. Umumnya tenaga kerja yang terampil dapat menghasilkan biji mete yang sudah terkupas sebanyak 10 kg / hari. Untuk tingkat upah bagi tenaga kerja dibidang lain dapat dilihat dalam tabel dibawah ini :
Tabel 5.1 Tingkat Upah Tenaga Kerja
Bidang kerja
Tingkat Kesukaran Kerja
dan Tanggung Jawab
Jumlah upah
Penyedia bahan baku
Pemasaran
Pembukuan
Supir mobil
Kondektur
Pengemasan produk
Kasir
Sedang
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Sedang
Sedang
Tinggi
Rp. 400.000
Rp. 450.000
Rp. 450.000
Rp. 450.000
Rp. 450.000
Rp. 400.000
Rp. 450.000
E. Data biaya pabrik
1. Biaya Tetap
Tabel 5.2 Data biaya Tetap
Uraian
Jumlah / bulan
a.
Penyusuan peralatan dan perlengakapan usaha
b.
Bunga pinjaman
c.
Angsuran pinjaman
d.
Biaya pemasaran dan administrasi
e.
Lain-lain
Rp. 291.700
Rp. 1.000.000
Rp. 2.000.000
Rp. 1.000.000
Rp. 100.000
Jumlah
Rp. 4.391.700
2. Biaya tidak tetap
Tabel 5.3 Data Biaya Tidak Tetap / Biaya Variabel
Uraian
Banyaknya
Harga/ Unit
Jumlah/bulan
a). Upah :
1.
Bagian produksi
2.
Penyedia bahan baku
3.
Pemasaran
4.
Pembukuan
5.
Supir mobil
6.
Kondektur
7.
Pengawasan produk
8.
Kasir
300/ kg
2 orang
1 orang
I orang
I orang
2 orang
2 orang
1 orang
Rp.2.500 /kg
Rp. 400.000
Rp.450.000
Rp. 450.000
Rp.450.000
Rp.400.000
Rp.400.000
Rp.450.000
Rp. 7.500.000
Rp. 800.000
RP.450.000
Rp.450.000
Rp.450.000
Rp.800.000
Rp.800.000
Rp. 450.000
b). Bahan baku(biji mete gelondongan
9.000 kg
Rp.5.000/kg
Rp. 45.000.000
c). Bahan bakar
- Bensin
- Minyak tanah
d). Lain-lain
- Listrik
- Handpone
- Air
- Plastik
- Karung
50 liter
300 liter
Rp.4.500
Rp. 3200
Rp.125.000
Rp.275.000
Rp.150.000
Rp.200.000
Rp.100.000
Rp.100.000
Rp.100.000
Jumlah
Rp.57.925.000
VI. ASPEK MANAJEMEN
A.Tim Manajemen
Karena usaha yang akan digunakan berskala menengah. Sehingga kiranya perlu membutuhkan tim manajemen khusus untuk mengadakan pembagian kerja secara spesifik pada setiap karyawan. Hal ini dimaksudkan agar usaha yang dijalankan dapat diarahkan dan dapat dikendalikan dengan baik.
Usaha pengelolaan jambu mete ini akan didirikan dalam bentuk CV, hal ini dimaksudkan agar kebutuhan agar kebutuahan modal dapat terpenuhi dengan baik. Adapun struktur organisasi usaha ini adalah :
Unit Produksi
Penyedian
Bahan baku bakBaku
Unit Pemasaran
Unit
Transportasi
Keterangan :
= Garis Komando
= Garis Koordinasi
Untuk mendapatkan dasar hukum, maka usaha ini akan dibuatkan surat legalitas usaha, baik berupa akta pendirian usaha, SITU (Surat Izin Tempat Usaha), maupun surat-surat lainnya yang dapat menjamin kepastian hukum surat legalitas tersebut dapat juga digunakan sebagai bukti kepastian usaha untuk mendapatkan modal pinjaman, baik kepada pihak bank, investor, maupun sumber-sumber modal lainnya.
VII. ASPEK RESIKO
A.
Masalah-masalah yang potensial
Salah satu masalah potensial yang mungkin terjadi dalam usaha pengolahan biji mete ini adalah keluarnya salah satu sekutu(pemilik modal) dalam perusahan. Hal ini disebabkan karena usaha yang didirikan berbentuk CV, sehingga apabila salah satu sekutu keluar akan mengancam kelangsungan hidup suatu perusahaan.
B.
Resiko dan Hambatan
Setiap perusahan dalam menjalankan aktivitasnya tidak terlepas dari suatu resiko dan hambatan, demikian halnya dengan usaha pengolahan jambu mete. Salah satu resiko yang menghambat aktivitas perusahan adalah kurangnya bahan baku berupa biji mete gelondongan. Hal ini disebabkan karena jambu mete hanya berbuah secara musiman akni sekali dalam setahun.
C.
Tindakan Alternatif
Tindakan alternatif yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah dan resiko yang menghambat aktivitas perusahan di atas adalah cara menyisihkan sebagian pendapatan sebagai modal cadanga. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi adanya kekurangan bahan baku adalah dengan cara menyiapkan gudang sebagai tempat penampungan bahan baku (biji mete gelondongan) yang dibeli pada saat musim panen berlangsung.
VIII. ASPEK FINANSIAL
A.
Perkiraan Finansial
1.
Analisis BEP
Tabel 8.1 Perhitungan Pendapatan dan Titik Impas
Uraian
Banyaknya
Harga/kg
Jumlah / Bulan
a. Penjualan :
- Biji mete utuh
- Biji mete pecah
- Kulit mete
b. Pengeluaran operasi
c. Keuntungan kotor
d. Biaya operasi
e. Keuntunganbersih sebelum
f. Pajak 5%
g. Keuntungan bersih setelah pajak
h.Titik impas (BEP)
2.400kg
600kg
6000kg
3000kg
3000kg
3000kg
3000kg
3000kg
3000kg
1.557,9175kg
Rp.40.000
Rp.30.000
Rp.500
Rp.19.303,33
Rp.19.691,66
Rp.1.463,9
Rp.18.227,77
Rp.911,39
R.17.316,38
Rp.40.000
Rp.96.000.000
Rp.18.000.000
Rp.3.000.000
Rp. 57.925.000
Rp.59.075.000
Rp.4.391.700
Rp.54.683.300
Rp.2.734.165
Rp.51.949.135
Rp.62.316.700
Berdasarkan tabel 8.1 di atas dapat dilihat bahwa titik impas atau BEP akan tercapai pada saat jumlah produksi setiap bulan sebanyak 1.557,9175 kg, dengan harga Rp.40.000/kg. Hal ini berarti apabila perusahan memproduksi kurang dari 1.557,975 kg/bulan, maka perusahan akan mengalami kerugian. Sebaliknya apabila perusaha memproduksi lebih dari 1.557,975 kg / bulan, maka perusahan akan mengalami keuntungan.
2.
Keuntungan dan Kerugian
Berdasarkan titik impas yang diketahui, maka apabila perusahan memproduksi dengan jumlah kapasitas diatas titik impas, maka perusahan akan mendapatkan keuntungan. Dari tabel 8.1 di atas dapat dilihat bahwa jumlah produksi perusahan untuk setiap bulan adalah 3.000 kg dengan jumlah biji mete sebanyak 2.400 kg dan biji pecah sbanyak 600 kg. Apabila tingkat harga untuk biji mete utuh adalah 400.000 / kg, maka harga penjualan keseluruhan adalah 114.000.000,-/bulan. Disamping itu pendapatan diperoleh dari penjualan biji mete, kulit gelondongan juga dapat mendatangkan penghasilan, dengan harga 500/kg, sehingga akan harga keseluruhan adalah Rp. 3.000.000 / bulan.
Dari hal di atas jumlah keuntungan yang diperoleh perusahan dapat dihitung sebagai berikut :
a)
Pendapatan
- biji mete : Rp.144.000.000
- kulit ari :
Rp. 3.000.000
Rp. 117.000.000
b)
Biaya
- biaya tetap : Rp. 4.391.700
- biaya Variabel :
Rp. 57.925.000
: Rp. 62.316.700
c) Pajak sebesar 5 %=Rp.2.734.165
d) Keuntungan
= Rp.11700.000-(Rp. 62.316.700 + Rp. 2.734.165)
= Rp.51.949.13
3.
Arus Kas
Tabel 8.2 Arus Kas
Uraian
Jumlah
Sumber dana
Penggunaan dana
Arus kas bersih
Rp. 150.000.000
Rp. 109.300.000
Rp. 40.700.000
Dari Tabel 8.2 di atas dapat dijelaskan bahwa arus kas yang terjadi pada perusahan pengolahan biji mete adalah : sumber dana yang diperoleh baik dari modal sendiri maupun pinjaman adala sebesar Rp. 150.000.000. dari jumlah dana tersebut akan digunakan untuk pembelian peralatan dan perlengkapan kantor, serta kebutuhan perusahan lainnya sebesar Rp. 109.800.000,- sehingga saldo kas adalah sebesar Rp.40.700.000,-
B.
Sumber- suber dan Pemakaian Dana
Sumber dana perusahan pengelohan biji jambu mete dapat dilihat pada 8.3 sebagai berikut :
Uraian
Jumlah
Persentase
Modal sendiri
Modal pinjaman
Rp.100.000.000
Rp. 50.000.000
667
33,3
Jumlah
Rp. 15.000.000
100
Dari tabel 8.3 di atas dapat dijelaskan jumlah modal yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha ini adalah sebesar Rp.150.000.000,- yang berasal dari dua sumber yaitu modal sendiri, yang berupa setoran modal dari para sekutu sebesar Rp.100.000.000,- dan modal pinjaman Rp. 50.000.000,-
C. Rencana Anggaran
Dari total dana yang diperoleh perusahan baik modal pinjaman, maupun modal sendiri akan digunakan untuk pembelian peralatan dan perlengkapan usaha, serta kebutuhan lain yang mendukung kelancaran usaha. Apabila dikemudian hari terdapat kelebihan dana, maka modal tersebut akan disimpan pada beberapa bank, dan akan dijadikan sebagai tambahan modal jika suatuwatu dibutuhkan.
IX. BATAS WAKTU
Untuk meningkatkan volume usaha, maka perusahan ini akan beroperasi Setiap hari yaitu pukul 08.00-12.00 WITA, kemudian istrahat 2 jam, dan akan dilanjutkan pada pukul 14.00-17.00 WITA. Usaha ini akan terus beroperasi selama dipandang layak untuk dijalankan samapi waktu yang tidak terbatas.
X. APENDIX DAN BIOGRAFI
A.
Riwayat Hidup
1)
Pendiri Usaha
Nama : Sri Fita Rahmawati
Tempat tanggal lahir : Lasolo, 20 mei 1970
Riwayat pendidikan :
- SD 6 tahun : SD Negeri 1 Lasolo
- SMP 3 tahun : SM Negeri 2 Lasolo
- SMA 3 tahun : SMA Negeri 1 Lasolo
2) Sekertatis
Nama : Sardi
Tempat tanggal lahir : Asera, 12 juni 1980
Riwayat pendidikan :
- SD 6 tahun : Negeri 1 Asera
- SMP 3 tahun : Negeri 1 Asera
- SMA 3 tahun : Negeri 2 Asera
- Kuliah 4 tahun : Universitas Haluoleo (Ekonomi Manajemen)
3 Karyawan.......
1. Sekertaris
2. Bendahara
3. Dan lain-lain.
PROPOSAL
BISNIS PLAN
KEWIRAUSAHAAN LANJUTAN
“CV METE SEJATI MAKMUR DI KECAMATAN LASOLO
KABUPATEN KONAWE UTARA”
OLEH :
NAMA : SRI FITA RAHMAWATI
STAMBUK :A1D207157
PROG. STUDI : PEND. BAHASA INGGRIS
JURUSAN : PEND. BAHASA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2009
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ................................................................................................... i
DAFTAR ISI ...............................................................................................................ii
I. RINGKASAN ..........................................................................................................1
II. DESKRIPSI ASPEK-ASPEK USAHA ..................................................................1
III. ASPEK PEMASARAN .........................................................................................4
IV. PENELITIAN, MODEL DAN PENGEMBANGAN ...........................................6
V. ASPEK PABRIK ....................................................................................................7
VI. ASPEK MANAJEMEN .......................................................................................11
VII. ASPEK RESIKO ................................................................................................12
VIII.ASPEK FINANSIAL .........................................................................................13
ii
IX. BATAS WAKTU ................................................................................................15
X. APENDIKS DAN BIOGRAFI .............................................................................16
Beranda
Langganan:
Postingan (Atom)
Pengikut
Arsip Blog
▼
2009
(1)
▼
November
(1)
proposal of interpreneuship
Mengenai Saya
srifitarahmawati
Special
Lihat profil lengkapku